Mahasiswa Tangerang Turun ke Jalan, Sampaikan Lima Tuntutan Rakyat kepada Pemerintah

Berita68 Dilihat

Tintaindonesia.id, Tangerang – Poros Baru Tangerang yang terdiri dari Serikat Mahasiswa Muslimin Indonesia (SEMMI) Cabang Tangerang, Forum Aksi Mahasiswa (FAM) Tangerang, dan Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) Banten menggelar aksi unjuk rasa di Taman Gajah, Cikokol, Kota Tangerang, Kamis (18/6/2026).

Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan Lima Tuntutan Rakyat dengan penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai isu utama.

Koordinator Aksi, Topan Bagaskara, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis perlu dihentikan karena dinilai berdampak pada efisiensi anggaran di sektor-sektor yang lebih mendesak, terutama pendidikan.

“Kami menolak Program Makan Bergizi Gratis karena pelaksanaannya justru mengorbankan sektor yang lebih penting. Di saat kesejahteraan guru masih memprihatinkan dan kualitas pendidikan masih menghadapi banyak persoalan, pemerintah malah menghabiskan anggaran yang sangat besar untuk program yang sarat pencitraan,” tegas Topan dalam orasinya.

Baca : Badrul Munir: Menghormati Hasil Demokrasi dan Menjaga Optimisme Kebangsaan

Menurut Topan, pendidikan yang berkualitas tidak lahir dari makan siang gratis semata, melainkan dari guru yang sejahtera, fasilitas yang memadai, serta akses pendidikan yang merata bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selain isu pendidikan, Poros Baru Tangerang juga menolak Proyek Geothermal Gede Pangrango karena dianggap berpotensi mengancam kelestarian kawasan konservasi, keseimbangan ekosistem, serta sumber kehidupan masyarakat yang bergantung pada kawasan pegunungan tersebut.

‎”Kami menolak proyek Geothermal Gede Pangrango karena pembangunan tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan lingkungan hidup. Kawasan Gede Pangrango merupakan salah satu kawasan ekologis penting yang harus dijaga,” ujar Topan.

Massa juga mengkritik laju deforestasi hutan yang masih terjadi di berbagai wilayah Indonesia. Menurut mereka, pembukaan dan alih fungsi kawasan hutan secara masif telah memperparah krisis ekologis, meningkatkan risiko bencana, serta mengancam keberlangsungan hidup generasi mendatang.

“Hutan bukan sekadar komoditas ekonomi yang bisa dieksploitasi tanpa batas. Hutan adalah benteng terakhir kehidupan. Ketika hutan terus ditebang dan dirusak, yang dipertaruhkan bukan hanya pohon, tetapi masa depan lingkungan dan masyarakat adat,” lanjutnya.

Dalam kesempatan tersebut, Topan juga menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai munculnya aktivis karbitan, yakni kelompok yang mengatasnamakan gerakan mahasiswa tetapi kehilangan daya kritis setelah dekat dengan kekuasaan.

“Hari ini kita menyaksikan sebagian aktivis tidak lagi berdiri bersama rakyat, melainkan berdiri di belakang penguasa. Ketika guru menjerit karena kesejahteraan yang tidak kunjung diperhatikan, ketika hutan dirusak dan ruang demokrasi semakin sempit, mereka memilih diam,” ujarnya.

Menurutnya, gerakan mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi kekuatan kontrol terhadap pemerintah, bukan menjadi alat legitimasi kekuasaan.

“Sejarah membuktikan bahwa mahasiswa selalu hadir ketika rakyat membutuhkan suara perlawanan. Karena itu kami menolak menjadi generasi yang diam,” ungkapnya.

Baca juga : Buruh Kecam Spanduk Promosi Pasar Laris Saiman Sentiong, Dinilai Rendahkan Pekerja

Adapun Lima Tuntutan Rakyat yang disampaikan Poros Baru Tangerang dalam aksi tersebut meliputi:

‎1. Hentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
‎2. Segera Sejahterakan Guru.
‎3. Hentikan Proyek Geothermal Gede Pangrango.
‎4. Kembalikan TNI–POLRI pada Fungsi Profesionalnya.
‎5. Hentikan Deforestasi Hutan.

Massa aksi menegaskan bahwa pembangunan nasional harus dikembalikan pada prinsip keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan penghormatan terhadap demokrasi.

Sebelum membubarkan diri, massa membacakan pernyataan sikap dan menegaskan komitmennya untuk terus mengawal berbagai kebijakan publik yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat melalui gerakan advokasi, pendidikan politik, dan konsolidasi yang lebih luas.