IEA Nilai WFH Efektif Tekan Konsumsi BBM dari Sektor Transportasi

Berita290 Dilihat

Tintaindonesia.id, Jakarta – International Energy Agency (IEA) menilai kebijakan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) dapat menjadi solusi dalam menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM), khususnya yang berasal dari aktivitas transportasi harian, Kamis (2/4/2026).

Dalam analisanya, IEA mengungkap bahwa mobilitas pekerja, terutama perjalanan rutin menuju dan dari tempat kerja, menjadi salah satu faktor utama tingginya penggunaan BBM. Dengan penerapan WFH, intensitas penggunaan kendaraan pribadi dapat berkurang sehingga konsumsi energi pun ikut menurun.

Berdasarkan simulasi yang dilakukan, IEA memperkirakan bahwa jika pekerja menerapkan WFH selama tiga hari dalam satu minggu, maka konsumsi BBM secara nasional berpotensi ditekan sekitar 2 hingga 6 persen.

Baca : KPK Sita Uang Ratusan Juta dari Rumah Ono Surono Terkait Kasus Bupati Bekasi

Selain itu, dampak penghematan dinilai lebih signifikan pada level individu. Perubahan pola kerja dari sepenuhnya di kantor menjadi kombinasi dengan WFH selama beberapa hari dalam sepekan dapat menurunkan konsumsi BBM kendaraan pribadi hingga sekitar 20 persen.

IEA juga menilai kebijakan kerja fleksibel ini relevan diterapkan sebagai bagian dari strategi efisiensi energi, terutama di tengah dinamika harga minyak dunia yang fluktuatif. Lembaga tersebut mendorong pemerintah di berbagai negara untuk mulai mengadopsi kebijakan serupa sesuai dengan karakteristik sektor pekerjaan.

Di Indonesia, langkah menuju kebijakan tersebut mulai diterapkan oleh pemerintah dengan mendorong skema WFH bagi aparatur sipil negara (ASN). Kebijakan ini diharapkan mampu mengurangi beban konsumsi BBM sekaligus menekan pengeluaran negara.

Baca juga : HUT ke-152 Pandeglang, IPNU Soroti Pendidikan, Infrastruktur hingga Pelayanan Publik

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut bahwa penerapan WFH berpotensi memberikan efisiensi anggaran yang cukup besar, termasuk dalam pengurangan beban subsidi maupun kompensasi energi dalam APBN.

Dengan berbagai perhitungan tersebut, WFH dinilai bukan hanya sekadar pola kerja alternatif, tetapi juga menjadi bagian dari strategi nasional dalam menjaga ketahanan energi dan efisiensi ekonomi.