IPNU-MA IPNU Banten Usulkan Prof. Niam, Idy Muzayyad, dan Kader Potensial Masuk PBNU 2026-2031

Berita91 Dilihat

Tintaindonesia.id, Serang – Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Banten bersama Majelis Alumni IPNU (MA IPNU) Banten mendorong keterlibatan lebih besar kader-kader alumni IPNU dalam struktur kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026–2031.

Dorongan tersebut disampaikan menyusul ditetapkannya struktur kepemimpinan PBNU periode 2026–2031 oleh Tim Formatur Muktamar ke-34 NU. Dalam keputusan tersebut, KH. Miftachul Akhyar kembali dipercaya sebagai Rais Aam PBNU, sementara KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) terpilih sebagai Ketua Umum PBNU.

Selanjutnya, Ketua Umum Terpilih bersama Tim Formatur memiliki tugas menyusun komposisi kepengurusan PBNU secara lengkap untuk periode lima tahun mendatang.

Baca : Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Mushola Nurul Huda Berlangsung Khidmat

Dalam proses tersebut, PW IPNU Banten bersama MA IPNU Banten menyampaikan usulan agar sejumlah kader terbaik alumni IPNU dapat dipertimbangkan untuk mengisi posisi strategis dalam kepengurusan PBNU.

Usulan itu disampaikan di Serang, Senin (7/9), oleh Ketua PW IPNU Banten M. Riziq Shihab dan Ketua MA IPNU Banten Abdul Jabar. Keduanya menilai pengalaman, kapasitas keilmuan, serta rekam jejak organisasi sejumlah alumni IPNU menjadi modal penting untuk memperkuat kepengurusan PBNU ke depan.

Dua nama yang secara khusus didorong adalah Prof. Dr. KH. Asrorun Niam Sholeh, M.A., Ketua Umum MA IPNU yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat, serta H. Idy Muzayyad, M.Si., mantan Ketua Umum PP IPNU yang saat ini mengabdi sebagai Pimpinan BAZNAS RI.

Selain kedua nama tersebut, PW IPNU dan MA IPNU Banten juga berharap Tim Formatur membuka ruang bagi kader-kader muda alumni IPNU lainnya yang memiliki kapasitas, pengalaman, dan potensi untuk turut berkontribusi dalam jajaran kepengurusan harian PBNU.

Ketua PW IPNU Banten M. Riziq Shihab mengatakan, usulan tersebut merupakan bagian dari ikhtiar untuk menjaga kesinambungan kaderisasi dan estafet kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Menurutnya, kader IPNU telah menjalani proses kaderisasi yang berjenjang dan panjang, mulai dari tingkat ranting hingga tingkat nasional. Proses tersebut, kata dia, menjadi bekal penting bagi kader untuk mengabdi dan mengambil peran yang lebih besar di lingkungan jam’iyah NU.

“Kami mengusulkan kepada Ketua Umum Terpilih dan Tim Formatur PBNU untuk mempertimbangkan nama-nama kader alumni IPNU seperti Prof. Niam, rekan Idy, dan kader-kader lainnya. Mereka memiliki potensi serta kapasitas yang mumpuni, baik dari sisi keilmuan maupun pengalaman berorganisasi,” kata Riziq.

Ia menegaskan, penyusunan kepengurusan PBNU periode 2026–2031 menjadi momentum penting untuk memperkuat regenerasi sekaligus memberikan ruang yang lebih luas bagi kader-kader muda NU.

“Sudah saatnya kader IPNU diberikan ruang yang lebih besar di PBNU. NU ke depan membutuhkan kader dan pemimpin yang memahami akar rumput, memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, sekaligus mampu menjawab berbagai tantangan zaman,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, Ketua MA IPNU Banten Abdul Jabar menilai keterlibatan alumni IPNU dalam struktur PBNU merupakan bagian dari upaya memperkuat kesinambungan kaderisasi organisasi.

Baca juga : PC SAPMA PP Kota Tangerang Gelar Santunan Dalam Keberkahan Ramadhan

Menurutnya, sejumlah nama yang diusulkan memiliki rekam jejak pengabdian yang panjang, baik di lingkungan organisasi keagamaan, pendidikan, pemerintahan, maupun lembaga publik.

“Sebagai Majelis Alumni, kami melihat Prof. Niam, rekan Idy, dan rekan-rekan lainnya merupakan kader terbaik IPNU. Mereka telah menunjukkan kontribusi di berbagai ruang pengabdian, mulai dari masjid, sekolah, kampus, organisasi, hingga pemerintahan,” ujarnya.

Abdul Jabar berharap Ketua Umum Terpilih dan Tim Formatur PBNU dapat mempertimbangkan aspirasi tersebut secara proporsional dalam proses penyusunan kepengurusan.

“Harapan kami, kaderisasi tidak berhenti pada proses mencetak kader, tetapi juga memberikan ruang pengabdian yang lebih luas bagi kader-kader yang telah memiliki kapasitas dan pengalaman. Semuanya tentu untuk memperkuat dan menjaga kemaslahatan Jam’iyah Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.