Menapak Jalan Pengkhidmatan Abad Kedua Nahdlatul Ulama

Opini244 Dilihat

Menjemput Generasi Terbaik dan Membaca Kompas Kepemimpinan di Muktamar ke-35 NU

Oleh : Abdul Jabar (Generasi Muda Nahdlatul Ulama Provinsi Banten)

Tintaindonesia.id, Opini – Satu abad pertama telah dilewati oleh Nahdlatul Ulama (NU) dengan guratan tinta emas sejarah. Dari rahim pesantren, organisasi ini tumbuh dari benteng kultural pembela ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) menjadi salah satu pilar utama penyangga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kini, di saat Muktamar ke-35 NU bersiap digelar pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, jam’iyah terbesar di dunia ini resmi mengayunkan langkah khidmah pertamanya di abad kedua.

Bagi kami, generasi muda Nahdliyin dari Provinsi Banten—tanah jawara yang diwarnai spirit gawe kuta baluwarti bata kalawan kawis (membangun pondasi kokoh demi kemaslahatan), serta berada di bawah keteladanan mahaguru dunia, Syekh Nawawi Al-Bantani, Muktamar Jombang bukan sekadar ritual lima tahunan untuk memilih kepengurusan PBNU. Momentum ini adalah sebuah jembatan peradaban.

NU di abad kedua dihadapkan pada realitas zaman yang jauh berbeda dari tahun 1926, mulai dari disrupsi teknologi, kecerdasan buatan, pergeseran geopolitik, hingga tantangan kemandirian ekonomi umat. Pada titik inilah, panggilan pengkhidmatan untuk melahirkan generasi terbaik menjadi sebuah urgensi yang luhur.

Baca : Mahasiswa PLP Integratif Kelompok 13 Gelar Pembekalan Finalis Pemilihan Duta SMKN 3 Kota Serang

1. Merawat Marwah Kepemimpinan Tertinggi (Syuriyah) dan Jangkar Moral AHWA

Struktur tertinggi jam’iyah berada di tangan jajaran Syuriyah yang dipimpin oleh Rais Aam. Sebagai pemegang supremasi moral dan spiritual, amanah Rais Aam menjelang Muktamar ke-35 menuntut figur kiai yang karismatik, jernih, serta mampu menjadi pengayom bagi seluruh lapisan umat.

Nama KH Ma’ruf Amin muncul ke permukaan dan siap mempertimbangkan dorongan tulus para kiai sepuh untuk kembali berkhidmat sebagai Rais Aam. Pengalaman panjang tokoh senior yang mengalir darah ulama besar Banten ini dinilai mampu menjaga marwah organisasi di tengah transisi zaman digital.

Siapa pun yang kelak diamanahi—baik petahana KH Miftachul Akhyar maupun tokoh sepuh lainnya—tugas utamanya adalah memastikan Syuriyah tetap menjadi penuntun nurani dan arah gerak jam’iyah.

Jawaban atas kebutuhan navigasi moral tersebut tercermin pada kekuatan kolektif jajaran Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA). Sembilan ulama sepuh yang dipilih dalam bursa AHWA Muktamar ke-35 bukan sekadar penentu struktural, melainkan representasi keluasan ilmu, kedalaman spiritual, dan benteng independensi organisasi yang menjadi satu kesatuan pilar kultural yang kokoh.

Jangkar moral utama ini digerakkan dengan sangat indah oleh para masyayikh sepuh pesantren. Figur khos seperti KH Nurul Huda Jazuli (Ploso, Kediri) menjadi simbol keteguhan pola pendidikan salaf, sementara KH Kafabihi Makhrus (Lirboyo, Kediri) mengawal tradisi bahtsul masail melalui kedalaman ilmu fikih turats.

Kelenturan dakwah kemanusiaan KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dari Rembang hadir membawa kesejukan bagi kemandirian organisasi, bersanding bersama KH Ubaidillah Shodaqoh dari Semarang yang konsisten merajut tiga pilar ukhuwah kebangsaan.

Kompas spiritual ini kian diperkaya oleh visi teduh KH Said Aqil Siradj (Cirebon) yang gigih membumikan Islam Nusantara, serta kematangan KH Ma’ruf Amin yang memiliki rekam jejak panjang dalam menjembatani kepemimpinan keulamaan dengan pengabdian publik nasional.

Baca juga : RT 005 RW 002 Sabet Juara Karnaval HUT RI ke-80 di Desa Cikupa

Kedaulatan kultural ini pun kian inklusif dengan hadirnya representasi ulama luar Jawa, mulai dari Syekh KH Ali Akbar Marbun (Medan) yang membawa sanad keilmuan luhur dari Tanah Suci, Tgk. KH Nurruzahri (Walid NU) dari Aceh dengan kesantunan tradisi dayah, hingga KH Ali Kholil (Balikpapan) yang mempelopori kemandirian finansial umat melalui gerakan agribisnis santri (Konsain).

2. Keselarasan Visi Tanfidziyah: Khidmah Keumatan dan Penguatan Akidah

Berbeda dengan kepemimpinan kultural Syuriyah, jajaran Tanfidziyah, khususnya Ketua Umum PBNU, membutuhkan nakhoda dengan kapasitas manajerial yang tangguh dan peka terhadap kemaslahatan warga.

Ruang musyawarah gagasan di tubuh jam’iyah kini berlangsung sangat hidup dengan munculnya deretan kader terbaik NU yang siap menawarkan peta jalan kemajuan organisasi. Seluruh nama yang mengemuka merupakan putra-putra terbaik yang dimiliki jam’iyah hari ini.

Mulai dari petahana KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang membawa komitmen transformasi kelembagaan secara profesional dan penguatan peran internasional NU, berdampingan dengan KH Zulfa Mustofa selaku Penjabat (Pj.) Ketua Umum PBNU yang terus menekankan pentingnya pengurus yang mendalam ilmu agamanya (faqih) serta peka terhadap dinamika sosial di tingkat akar rumput.

Visi kepemimpinan yang merangkul dan menguatkan marwah kepesantrenan juga disuarakan secara tulus oleh KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Pengasuh PP Tebuireng Jombang. Sementara itu, ikhtiar untuk pembaruan tata kelola serta konsolidasi cabang digaungkan oleh KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) dari PP Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang.

Potensi intelektual muda pesantren kian meluas dengan hadirnya KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), selaku Ketua PWNU Jawa Tengah, yang berfokus pada modernisasi tata kelola pendidikan Islam.

Kebersamaan gagasan ini semakin lengkap dengan munculnya dedikasi KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) dari PP API Tegalrejo Magelang yang membawa visi penguatan khidmah kebangsaan; pemikiran visioner KH Imam Jazuli dari PP Bina Insan Mulia Cirebon dalam tata kelola jam’iyah di era modern; hingga kematangan kepemimpinan, akademisi, dan spiritual yang ditawarkan oleh KH Nasaruddin Umar, selaku Menteri Agama RI dan Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta.

Banyaknya figur potensial yang bermunculan membuktikan bahwa NU melimpah dengan stok kepemimpinan yang andal. Yang terpenting, seluruh kontestasi gagasan ini harus berjalan secara sejuk demi menjaga marwah para muassis jam’iyah.

Pemimpin NU ke depan diharapkan mampu menegaskan independensi jam’iyah sebagai mitra konstruktif negara yang senantiasa mengutamakan kemaslahatan umat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar