Tintaindonesia.id, Pandeglang – Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) & Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Pandeglang menggelar Kajian Ramadan selama bergulirnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah/2026. Dalam kegiatan kajian ke 2 yang telah terlaksana pada Rabu 25 Februari 2026 di Yayasan Pendidikan Islam (YPI) Matlhaunnawakartika, hadir sebagai pembicara kajian, yakni Ketua PC MUslimat NU Pandeglang Bunda Nurdinah, Rabu (25/2/2026).
Dalam kesempatan itu, Bunda Nurdinah menyajikan tema Sedekah Brutal: Tips Berbagi tanpa harus kaya’. Mengawali pemaparan, ia menjelaskan perbedaan antara pemberi dan yang menerima. Menurutnya, perbedaan itu terletak pada hukum, jenis pemberian, hingga aturan pelaksanaan.
“Tangan di atas lebih baik dari pada tangan di bawah,ini yang perlu di jadikan point utama agar kita bisa menjadi orang-orang pemberi jangan hanya ingin menjadi penerima saja karena sesuai dengan salah satu hadist yang berbunyi Khoirunnas anfauhum linnas,sebaik baiknya manusia adalah dia yang bermanfaat untuk orang lain” Terangnya.
Baca : LSMP Soroti Jalan Rusak dan Dugaan Pemborosan Anggaran di Dinas Bina Marga Kabupaten Tangerang
Selain itu pemateri juga memberikan gambaran dan masukan sedekah yang perlu di laksanakan di bulan suci Ramadhan yang bersifat wajib yaitu zakat.
“Secara singkat bisa kita sampaikan kalau sedekah itu ada aturan mainnya. Hukumnya wajib bagi yang memenuhi syarat atau bagi mereka yang disebut dengan Muzakki. Memiliki aturan ketat seperti nisab, kemudian haul, dan juga target penerima manfaat atau mustahik yang kemudian lebih kita sebut dengan sebutan delapan asnaf,” terangnya.
Mengenai definisi zakat, diartikannya sebagai kegiatan mengeluarkan sebagian harta untuk kepentingan yang diperintahkan oleh agama, baik yang wajib seperti nafkah keluarga maupun yang sunnah seperti donasi untuk kebaikan-kebaikan. Lingkup infak ini disebutkannya hanya terbatas pada pemberian materi atau lebih ke harta.
“Kalau sedekah memiliki cakupan paling luas dan hukum asalnya adalah sunnah. Sedekah tidak hanya berupa uang atau barang, tapi juga berupa non materi seperti senyuman, tenaga, maupun bantuan secara moril. Jadi, kalian rekan rekanita nek durung iso zakat yo ayo belajar dadi Munfik–wong sing akeh infake. Nek durung iso dadi munfik, yo ayo sing akeh sodaqohe. Minimal dengan tersenyum, dengan berbagi kebahagiaan kepada sesama wis diarani sedekah. Jadi wong niku iso sedekah belum tentu iso dadi munfik. Wong sing munfik belum tentu iso zakat. Tapi nek wis dadi muzakki insya Allah iso dadi munfik. Lah nek wis iso dadi munfik insya Allah sedekah gampang. Makane monggo kita belajar untuk terus berusaha agar bisa menjadi muzakki, orang yang bisa berzakat,” sambungnya.
Selanjutnya Nurdinah mengutip aturan atau tata cara pelaksanaan ZAkat berdasarkan Surat Edaran BAZNAS PROV Banten, tentang instruksi optimalisasi zakat infak dan sedekah.
“Di dalam surat itu menginstruksikan kepada badan otonom, lembaga dan jaringan struktur maupun kultural Nahdatul Ulama seperti masjid, musala, pondok pesantren, majelis taklim, rumah sakit, lembaga pendidikan, atau semua lembaga yang ada di wilayah Banten yang melakukan pengelolaan zakat, infak, dan sodaqah agar segera memproses legalisasi amil syar’i dengan menginduk ke BAZNAS atau menjadi jaringan pengumpul zakat infak shodaqoh di bawah naungan NU Care Lazisnu di wilayahnya masing-masing,” ujarnya.
Sebagai informasi, Kajian Ramadan yang diselenggarakan PC IPNU IPPNU Pandeglang berkolaborasi dengan sejumlah pengurus PAC ,PK & PR Yang beradi di bawah naungan PC IPNU IPPNU Pandeglang ini ketua PC IPNU Pandeglang Rekan Uci memberikan harapannya agar kegiatan ini bisa memberikan investasi pemikiranterhadap kader dan anggota dan bisa memanfaatkan digitalisasi di era digital.
“Tujuannya kami mengadakan kegiatan kajian Ramadhan ini adalah supaya tugas kami sebagai pengurus cabang bisa hadir dan bisa dirasakan oleh kader dan anggota dangan memenuhi kewajiban kami dengan cara memberikan forum forum kajian seperti ini,Karena dengan seperti ini kesolidaritasan dan kualitas kader bisa terbangun,selain itu kami mengadakan nya ada yang online dan offline agar kader dan anggota yang fi luar jangkauan seperti sedang ada kegiatan,kerja dll bisa ikut serta dalam kajian tersebut dengan cara pemanfaatan digitalisasi agar kita tidak terseret oleh arus zaman” Ujarnya
