Oleh: Mohamad Eddy Sopyan (Wabendum PTKP PB HMI Periode 2024 – 2026)
Tintaindonesia.id, Opini – Seringkali saya tertegun menatap layar gawai, menyaksikan betapa cepatnya narasi politik berubah warna, namun betapa lambatnya nasib rakyat kecil mengalami perbaikan. Sebagai seseorang yang setiap hari bergulat dengan realitas sosial, nurani saya terusik ketika mendengar riuh rendah wacana dua periode yang digulirkan secara prematur di tengah wacana pilpres tanpa ambang batas. Bagi saya, ini bukan sekadar debat konstitusi atau angka di atas kertas, melainkan sebuah ujian moral: di manakah letak empati para elite ketika jeritan rakyat kalah nyaring oleh syahwat kekuasaan? Tulisan ini bukan lahir dari kebencian, melainkan dari kegelisahan mendalam seorang anak bangsa yang melihat negaranya sedang dipertaruhkan di tengah badai global yang kian gelap.
Belum juga kering peluh kerja di periode ini, para pemandu sorak kekuasaan sudah sibuk menebar karpet merah untuk periode kedua bagi Presiden Prabowo Subianto. Mengapa narasi ini terasa begitu hambar dan menyakitkan? Jawabannya sederhana: karena ia lahir tanpa hati nurani di tengah dunia yang sedang berada di titik nadir.
Bara Global: Kita Menari di Atas Api
Dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Kita sedang berdiri di bibir jurang ketidakpastian global yang mengerikan. Konflik di Timur Tengah bukan sekadar tontonan berita mancanegara; ia adalah ancaman nyata yang bisa meledakkan harga BBM kita kapan saja. Data tidak bisa berbohong: gangguan rantai pasok global akibat ketegangan geopolitik diprediksi akan mengerek harga pangan hingga 15-20%.
Baca : Social Volunteering Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi UMB Edukasi Remaja Hindari FOMO Secara Sehat
Bayangkan, di saat ibu-ibu rumah tangga harus memutar otak demi sepiring nasi karena harga gandum dan pupuk dunia melonjak, para elite justru asyik memutar strategi untuk melanggengkan takhta. Ini bukan lagi soal politik; ini adalah soal moralitas. Bagaimana mungkin kita bicara tentang kekuasaan lima tahun ke depan, sementara nasib perut rakyat esok hari masih menjadi tanda tanya besar?
Konflik Nasional: Luka yang Dipaksa Menganga
Di dalam negeri, wajah demokrasi kita sedang pucat pasi. Menghapus ambang batas (threshold) demi memuluskan jalan dua periode tanpa lawan seimbang adalah upaya sistematis untuk memandulkan nalar kritis bangsa. Kita masih memiliki “pekerjaan rumah” konflik agraria yang bersimbah air mata dan pengangguran yang menghantui generasi muda.
Memaksakan wacana dua periode saat ini ibarat menyiram bensin ke dalam api polarisasi nasional. Rakyat butuh solusi atas krisis, bukan provokasi atas ambisi. Jika energi bangsa habis hanya untuk mengurusi syahwat politik segelintir orang, lantas siapa yang akan menjaga kedaulatan kita di tengah kepungan kepentingan asing yang kian agresif?
Baca juga : IHSG Tertekan 2,08 Persen, Gagal Bertahan di Level 8.000
Kekuasaan yang Tuli dan Buta
Kepemimpinan itu soal pengabdian, bukan soal durasi. Sejarah mencatat bahwa pemimpin yang besar adalah mereka yang hadir saat rakyatnya menderita, bukan mereka yang sibuk mengamankan kursi saat badai datang. Wacana dua periode yang prematur ini adalah bukti betapa jarak antara elite dan rakyat kian membentang jauh. Mereka yang di atas sibuk dengan angka-angka survei, sementara mereka yang di bawah sibuk bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi yang kian mencekik.
Kesimpulan: Kembalilah ke Rakyat
Saya ingin mengetuk pintu hati para pemangku kebijakan. Hentikanlah kegaduhan ini. Fokuslah menyelamatkan kapal besar Indonesia dari terjangan ombak global yang kian ganas. Jangan biarkan sejarah mencatat bahwa di masa sulit ini, pemimpin kita lebih memilih memupuk ambisi daripada merawat nurani.
Rakyat tidak butuh pemimpin yang sibuk memikirkan cara untuk terus berkuasa. Rakyat butuh pemimpin yang berani berkorban demi memastikan api di dapur mereka tetap menyala. Sebab, pada akhirnya, kekuasaan hanyalah pinjaman, sementara penderitaan rakyat adalah pertanggungjawaban di hadapan Tuhan dan sejarah.
