Di Antara Tumbuh dan Lelah: Catatan Anak Muda Hari Ini

Opini164 Dilihat

Oleh : Hindayani
Dosen pengampu : Agus Salim S.S., M.A

Tintaindonesia.id, Opini — Ada satu hal yang diam-diam terjadi pada anak muda hari ini: kita tumbuh terlalu cepat. Bukan karena ingin, tetapi karena keadaan. Seolah hidup tidak memberi pilihan selain berlari mengejar target, memenuhi ekspektasi, dan membuktikan diri sebelum benar-benar mengenal siapa diri kita.

Kita diajari bahwa sibuk adalah tanda berhasil. Jadwal penuh dianggap prestasi, kurang tidur dibanggakan, dan istirahat sering kali dicurigai sebagai kemalasan. Padahal, kelelahan tidak selalu terlihat. Banyak anak muda tampak baik-baik saja, tetapi menyimpan letih yang tak sempat diucapkan.

Baca : IHSG Ditutup Melemah Tipis, Sempat Tertekan di Awal Perdagangan

Media sosial memperparah keadaan. Setiap hari kita melihat orang lain tampak lebih mapan, lebih terarah, dan lebih “jadi”. Tanpa sadar, hidup berubah menjadi arena perbandingan. Kita lupa bahwa apa yang terlihat di layar hanyalah potongan kecil dari perjalanan panjang seseorang.

Yang sering luput dipahami, hidup tidak selalu menuntut percepatan. Ada fase diam yang justru penting. Ada saat ketika berhenti bukan berarti menyerah, melainkan memberi ruang agar diri tetap utuh. Namun, budaya hari ini jarang memberi izin untuk itu. Kita dipaksa kuat bahkan sebelum sempat rapuh.

Baca juga : Pedagang Daging Pasar Cikupa Mogok Jualan, Protes Kenaikan Harga yang Terus Melonjak

Mungkin masalahnya bukan karena anak muda terlalu lemah, melainkan karena mereka terlalu cepat diminta dewasa. Terlalu cepat memikul tanggung jawab, tetapi terlalu jarang diberi kesempatan untuk bernapas. Di tengah dunia yang terus mendesak untuk bergerak, keberanian paling sederhana adalah berani berhenti sejenak dan tetap percaya bahwa hidup tidak harus selalu berlari.