Ketua PW IPNU Banten Mengecam Keras Tindakan Representif Aparat, Mencederai Kemanusiaan, Polri Harus di Evaluasi!

Berita134 Dilihat

Tintaindonesia.id, Banten — Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) Provinsi Banten menyoroti keras atas tragedi demonstrasi 28 Agustus 2025 yang memakan korban jiwa, di DKI Jakarta. Termasuk seorang pengemudi ojek online yang tewas akibat dilindas kendaraan kepolisian. Perisitiwa itu dinilai mencederai nilai kemanusiaan sekaligus memperdalam krisis kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum, Jum’at (29/8/2025).

“Kita sangat berduka atas jatuhnya korban jiwa dalam tragedi 28 Agustus. Darah rakyat yang tumpah di jalanan bukan sekadar angka, tetapi alarm keras bagi negara. Polri harus berani dievaluasi secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak berulang. Institusi penegak hukum tidak boleh berubah menjadi mesin yang menakutkan rakyatnya,” tegas Ketua PW IPNU Banten Muhamad Riziq Shihab.

Baca : Istana Beri Atensi Khusus Kasus Driver Ojol Tewas Saat Demo di DPR

Lebih lanjut dalam wawancaranya melalui telepon, ia menekankan bahwa tragedi tersebut bukan hanya soal kesalahan teknis di lapangan, melainkan potret nyata lemahnya penghormatan terhadap nilai kemanusiaan. Menurutnya, negara tidak boleh menutup mata atau sekadar menjanjikan investigasi tanpa hasil yang nyata.

“Kalau Polri gagal menunjukkan transparansi dan akuntabilitas, kepercayaan publik akan runtuh. Karena itu, kami mendukung penuh instruksi PP IPNU untuk menggelar Doa bersama dan Aksi Damai dengan tema Keadilan untuk Korban, Evaluasi untuk Polri. Kami ingin keadilan ditegakkan, copot Kapolri sebagai bentuk tanggungjawab moral dan institusional, Reformasi di tubuh Polri harus dijalankan, Polri pelayan masyarakat harus nyata dilakukan bukan sekadar jargon semata,” tambahnya.

Baca juga : Mobil Rantis Brimob Lindas Ojol di Penjompongan

PW IPNU Banten juga menegaskan komitmen pelajar NU untuk terus mengawal demokrasi, supremasi hukum, dan keadilan sosial. “Kami berdiri bersama korban, bersama rakyat. Negara ini terlalu mahal untuk dipertaruhkan hanya demi melanggengkan impunitas,” pungkasnya.