Forum Aksi Mahasiswa Tangerang: Hentikan Kekerasan Aparat, Usut Tuntas Kasus Ojol Tewas dalam Aksi

Berita73 Dilihat

Tintaindonesia.id, Tangerang – Gelombang kemarahan rakyat kembali menyeruak. Ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Tangerang yang tergabung dalam Forum Aksi Mahasiswa Tangerang (FAM Tangerang) turun ke jalan untuk menyuarakan protes keras terhadap tindakan represif aparat dalam pengamanan aksi beberapa waktu lalu di depan Gedung DPR RI, Jum’at (29/8/2025).

Aksi tersebut dipicu oleh peristiwa tragis yang menimpa seorang pengemudi ojek online (ojol) yang diduga menjadi korban kekerasan aparat hingga kehilangan nyawa. Insiden ini sontak menimbulkan luka mendalam sekaligus kemarahan publik, karena dianggap sebagai bukti nyata kegagalan negara dalam melindungi rakyatnya sendiri.

Demokrasi yang Terkoyak

Dalam orasi politiknya, perwakilan mahasiswa menegaskan bahwa demokrasi, kedaulatan, dan suara rakyat adalah fondasi bangsa yang tidak boleh dikorbankan hanya demi kepentingan elite penguasa. Namun, kenyataan di lapangan justru sebaliknya: rakyat yang bersuara kritis dihadapkan pada kekerasan, intimidasi, bahkan kematian.

Baca : Ketua IDEA Kecam Tindakan Brimob Lindas Ojek Online

“Demokrasi yang sejatinya menjadi ruang rakyat untuk berbicara kini dikangkangi oleh tindakan represif aparat. Kami tidak bisa diam melihat rakyat diperlakukan seperti musuh di tanahnya sendiri,” tegas salah seorang koordinator lapangan.

Mahasiswa menilai tindakan aparat telah mencederai nilai demokrasi dan konstitusi. Bukannya menjadi pelindung, aparat justru bertransformasi menjadi alat represi negara. Situasi ini mempertegas krisis legitimasi pemerintah yang gagal menjalankan amanat rakyat.

Gelombang Solidaritas

Aksi di Tangerang ini merupakan bagian dari gelombang protes nasional yang terus meluas. Di berbagai daerah, kelompok buruh, mahasiswa, hingga masyarakat sipil menggelar solidaritas menuntut keadilan bagi korban serta mengecam keras tindakan aparat yang dianggap brutal.

Di Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Makassar, suara-suara perlawanan serupa juga bermunculan. Mereka menyuarakan hal yang sama: hentikan kekerasan, usut tuntas kasus tewasnya ojol, dan bebaskan seluruh demonstran yang ditahan.

Baca juga : Ketua PW IPNU Banten Mengecam Keras Tindakan Representif Aparat, Mencederai Kemanusiaan, Polri Harus di Evaluasi!

“Kasus ini tidak bisa dianggap sebagai peristiwa biasa. Ini adalah potret telanjang betapa aparat diposisikan bukan untuk melindungi rakyat, melainkan melanggengkan kekuasaan. Jika dibiarkan, akan semakin banyak korban berjatuhan,” ujar salah satu aktivis mahasiswa dalam orasi di Tangerang.

Tiga Tuntutan Utama

Dalam pernyataan sikapnya, Forum Aksi Mahasiswa Tangerang menyampaikan tiga tuntutan pokok yang harus segera ditindaklanjuti:

  1. Usut Tuntas Kekerasan Aparat. Mahasiswa mendesak adanya investigasi independen, transparan, dan akuntabel terhadap seluruh tindakan represif aparat dalam pengamanan aksi. Segala bentuk kekerasan, termasuk intimidasi, pemukulan, hingga penggunaan kekuatan berlebihan harus dibuka ke publik.
  2. Proses Hukum Pelaku Pembunuhan Ojol. Aparat yang diduga terlibat dalam kematian seorang pengemudi ojol harus segera diadili. Tidak hanya pelaku di lapangan, tetapi juga aktor intelektual yang memberi perintah harus dimintai pertanggungjawaban. Mahasiswa menolak segala bentuk impunitas yang selama ini sering menutupi kejahatan aparat.
  3. Bebaskan Seluruh Demonstran. Mahasiswa menuntut agar semua peserta aksi yang ditangkap secara sewenang-wenang segera dibebaskan tanpa syarat. Mereka menilai penangkapan tersebut sebagai bentuk kriminalisasi terhadap gerakan rakyat.

Mahasiswa menyoroti bahwa peristiwa ini bukanlah insiden pertama. Sejak lama, pola represif aparat terhadap rakyat selalu berulang, terutama ketika rakyat menuntut hak dan menyuarakan kritik.

Baca juga : Istana Beri Atensi Khusus Kasus Driver Ojol Tewas Saat Demo di DPR

“Negara abai terhadap penderitaan rakyat. Di saat rakyat menjerit karena harga kebutuhan pokok melambung tinggi, lapangan kerja makin sempit, dan demokrasi semakin dibatasi, aparat justru digunakan untuk membungkam suara-suara kritis. Inilah wajah asli negara hari ini: menindas yang lemah, tunduk pada kepentingan pemilik modal,” ungkap salah satu pernyataan tertulis Forum Aksi Mahasiswa Tangerang.

Mereka menegaskan, tugas utama negara adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Namun faktanya, negara justru gagal hadir sebagai pelindung.

Forum Aksi Mahasiswa Tangerang menutup aksinya dengan janji perlawanan yang tegas: perjuangan tidak akan berhenti sampai keadilan ditegakkan. Jika tuntutan mereka diabaikan, aksi akan terus berlanjut dengan skala yang lebih besar.

“Kami tidak akan tinggal diam. Setiap tetes darah rakyat yang tumpah akan kami tuntut. Jika negara terus membiarkan aparat bertindak brutal, maka jangan salahkan rakyat bila gelombang perlawanan semakin membesar,” pungkas salah seorang orator.

Kematian seorang pengemudi ojol dalam aksi bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga cermin betapa rapuhnya demokrasi di negeri ini. Ketika rakyat hanya ingin menyampaikan aspirasi, nyawa mereka justru terancam. Negara yang seharusnya menjadi pelindung malah berubah menjadi predator.

Kasus ini akan menjadi ujian besar bagi pemerintah: apakah mereka akan berpihak pada rakyat dengan menindak aparat yang bersalah, ataukah kembali bersembunyi di balik tameng impunitas?

Forum Aksi Mahasiswa Tangerang telah memperingatkan: jika negara tidak berubah, maka sejarah akan mencatat bahwa kekuasaan ini runtuh bukan karena kekuatan asing, tetapi karena pengkhianatannya terhadap rakyat sendiri.