Oleh: Abdul Jabar
(Ketua MA. IPNU Banten dan Wakil Ketua DPD KNPI Propinsi Banten 2007-2012)
Tintaindonesia.id, Opini – Jika kita berkaca hari ini, wajah pemuda kita sedang tidak baik-baik saja. Dahulu pemuda identik dengan surau, masjid, dan lapangan. Mereka berkumpul untuk mengaji, berdiskusi, dan membangun desa. Hari ini pemuda masih berkumpul, tetapi yang berkumpul hanya raganya. Jiwanya tersedot ke dalam kotak kecil bernama telepon pintar. Di cermin digital itulah wajah asli pemuda kita terlihat.
Kita melihat pemuda yang kehilangan kiblat. Mereka lebih hafal nama selebritas TikTok daripada nama pahlawan nasional. Lebih mengenal gaya hidup pemengaruh daripada akhlak Rasulullah. Belajar agama tidak lagi dari kiai yang jelas sanadnya, melainkan dari potongan video tiga puluh detik yang algoritmanya dirancang untuk membuat gaduh. Akibatnya lahir pemuda yang beragama secara instan. Semangatnya meledak-ledak, tetapi ilmunya tipis. Mudah mengafirkan, mudah menyalahkan, dan mudah terpapar paham keras karena tidak pernah merasakan nikmatnya mengaji berlama-lama di pesantren.
Kita juga melihat pemuda yang kehilangan fokus, kehilangan karya, kehilangan rasa malu, dan kehilangan tetangga. Rata-rata pemuda menatap layar delapan jam sehari. Salat tertunda karena gim, mengaji lima menit sudah gelisah, tetapi menonton siaran langsung orang tidak dikenal bisa betah dua jam. Era digital seharusnya menjadikan pemuda sebagai produsen, tetapi faktanya mereka hanya menjadi konsumen yang setia. Menjadi penonton setia penjualan langsung orang lain, tetapi tidak pernah menjual produk sendiri. Demi konten, batas aurat dan privasi runtuh. Judi dalam jaringan dan pinjaman dalam jaringan merajalela. Teknologi yang katanya mendekatkan yang jauh, justru menjauhkan yang dekat. Di majelis sepi, di grup WhatsApp ramai.
Inilah wajah pemuda Generasi Z dan Generasi Alfa hari ini. Generasi yang tidak dapat dilepaskan dari telepon pintar. Bangun tidur yang dicari telepon pintar, hendak tidur yang digenggam tetap telepon pintar. Kita tidak mungkin memisahkannya karena zaman telah berubah. Lalu bagaimana mungkin kita bermimpi menuju Indonesia Emas tahun 2045 jika pemuda hari ini tidak kita arahkan. Indonesia Emas bukan sekadar jargon. Tahun 2045 Indonesia akan memiliki bonus demografi, tujuh puluh persen penduduknya adalah usia produktif. Jika generasi produktif itu adalah generasi yang kecanduan layar dan kehilangan adab, maka yang akan kita panen bukan emas, melainkan cemas. Indonesia Emas tidak akan lahir dari generasi yang hanya pandai menggulir layar, tetapi tidak pandai menggulir gagasan.
Oleh karena itu, pesan paling penting untuk pemuda yang bercermin di era digital ini adalah jangan menjadi pemuda bangkawarah. Dalam bahasa Sunda Banten, bangkawarah adalah pemuda yang keras kepala, sulit dinasihati, banyak alasan, dan merasa paling benar sendiri. Disuruh mengaji berdalih sibuk, diajak berorganisasi berdalih tidak ada waktu, dinasihati orang tua malah membantah. Tenaganya besar, tetapi manfaatnya kecil. Usianya muda, tetapi jiwanya tua karena malas. Pemuda bangkawarah adalah pemuda yang kalah sebelum berjuang. Sibuk berdebat, tetapi tidak pernah berbuat. Sibuk mengkritik, tetapi tidak pernah berkarya.
Sejarah mencatat bangsa ini tidak pernah dibangun oleh pemuda bangkawarah. Bangsa ini dibangun oleh pemuda yang patuh kepada guru, takzim kepada kiai, dan betah lelah di jalan perjuangan. Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari mendirikan Nahdlatul Ulama di usia muda bukan karena ia bangkawarah, melainkan karena ia patuh dan berkhidmah.
Maka tugas kita hari ini bukan melarang pemuda memegang telepon pintar, melainkan mengalihkan fungsinya. Dari alat hiburan menjadi alat perjuangan, dari alat untuk pamer menjadi alat untuk berkarya. Kita harus masuk ke dunia mereka, mengisi ruang digital dengan ilmu dan keteladanan. Kita harus mengubah pemuda dari penonton menjadi pencipta, dari generasi yang menghabiskan kuota menjadi generasi yang menghasilkan karya dari kuota itu. Syaratnya satu, berhentilah menjadi pemuda bangkawarah. Jadilah pemuda yang mau diatur, mau dibina, dan mau mengabdi. Karena pesantren tidak butuh pemuda yang paling pintar, pesantren butuh pemuda yang paling patuh. Dan Indonesia Emas tahun 2045 tidak butuh pemuda yang paling banyak bicara, Indonesia Emas butuh pemuda yang paling banyak bekerja. Pemuda yang memegang telepon pintar di tangan kanannya, dan memegang tasbih serta kitab di tangan kirinya.
