Tintaindonesia.id, Kabupaten Tangerang – Kebakaran yang terjadi di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin menjadi peringatan keras bahwa persoalan pengelolaan sampah di Kabupaten Tangerang membutuhkan perhatian yang lebih serius. Peristiwa tersebut bukan sekadar musibah, melainkan menjadi cerminan bahwa sistem pengelolaan sampah perlu dievaluasi secara menyeluruh agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Selain menimbulkan kepulan asap yang berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat, kebakaran di TPA Jatiwaringin juga memperlihatkan pentingnya langkah antisipasi yang lebih baik. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat berbanding lurus dengan meningkatnya volume sampah, sehingga diperlukan sistem pengelolaan yang tidak hanya berorientasi pada pembuangan, tetapi juga pada pengurangan sampah dari sumbernya, pemanfaatan kembali, dan pengolahan yang berkelanjutan.
Momentum ini diharapkan menjadi titik awal pembenahan tata kelola persampahan di Kabupaten Tangerang. Pemerintah daerah perlu melakukan evaluasi terhadap kapasitas TPA, sistem pengendalian gas metana, kesiapan sarana pemadam kebakaran, hingga percepatan penerapan teknologi pengolahan sampah yang lebih modern dan ramah lingkungan.
Baca : Buruh dan Pedagang Desak Pemkab Tangerang Evaluasi Pasar Modern Laris Saiman di Balaraja
Namun demikian, penyelesaian persoalan sampah bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, mulai dari dunia usaha, akademisi, komunitas lingkungan, organisasi kemasyarakatan, organisasi mahasiswa, hingga organisasi kepemudaan untuk bersama-sama menghadirkan inovasi dalam mengurangi timbulan sampah.
Selain itu, pemerintah daerah juga setiap tahun mengalokasikan anggaran melalui berbagai program pembinaan dan hibah kepada organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, serta organisasi mahasiswa. Program tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan kegiatan yang bersifat seremonial, tetapi mampu melahirkan gagasan, inovasi, dan aksi nyata yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, termasuk dalam menjawab persoalan pengelolaan sampah.
Mohamad Eddy Sopyan Wabendum PB HMI mengatakan, kebakaran TPA Jatiwaringin harus menjadi momentum untuk mengubah pola pikir seluruh pemangku kepentingan terhadap pengelolaan sampah.
“Kebakaran ini bukan sekadar musibah, tetapi alarm bagi kita semua. Sudah saatnya pemerintah melakukan evaluasi secara menyeluruh terhadap sistem pengelolaan sampah. Penanganannya tidak boleh hanya fokus ketika api muncul, tetapi harus dimulai dari pencegahan, pengurangan volume sampah, hingga penerapan teknologi yang lebih modern,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi antarstakeholder menjadi kunci dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik.
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Organisasi kepemudaan, organisasi mahasiswa, organisasi kemasyarakatan, dunia usaha, hingga masyarakat harus ikut mengambil bagian. Jika setiap pihak menjalankan perannya dengan baik, persoalan sampah bukan hanya bisa dikurangi, tetapi juga dapat diubah menjadi sumber nilai ekonomi yang bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya optimalisasi pemanfaatan dana hibah yang diberikan pemerintah daerah kepada berbagai organisasi.
Baca juga : Ribuan Massa Gelar Aksi Damai Dukung Keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis
“Setiap tahun pemerintah mengalokasikan dana hibah kepada berbagai organisasi sebagai bentuk dukungan terhadap pembangunan masyarakat. Sudah sepatutnya anggaran tersebut melahirkan program-program yang inovatif dan berdampak nyata. Jangan berhenti pada kegiatan seremonial atau laporan administrasi semata, tetapi harus mampu menjadi solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat, salah satunya persoalan sampah,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mendorong Pemerintah Kabupaten Tangerang untuk menyusun langkah strategis jangka panjang melalui penyusunan roadmap pengelolaan sampah yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, memperkuat edukasi kepada masyarakat, memperluas program bank sampah, serta mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan sampah yang lebih modern.
“Jangan sampai kebakaran TPA Jatiwaringin hanya menjadi berita sesaat. Harus ada kebijakan yang lahir dari peristiwa ini. Masyarakat menunggu langkah nyata, bukan sekadar wacana. Momentum ini harus menjadi titik balik menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih profesional, transparan, dan berkelanjutan demi masa depan Kabupaten Tangerang yang lebih bersih dan sehat,” pungkasnya
