Lewat Film Pesta Babi, Masyarakat Diajak Memahami Kolonialisme Modern di Indonesia

Berita48 Dilihat

Tintaindonesia.id, Tangerang — Kegiatan nonton bareng dan diskusi film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita digelar di Rumah Rakyat, Desa Sukasari, Kecamatan Rajeg, pada Sabtu, 23 Mei 2026. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi publik untuk membahas isu masyarakat adat, konflik agraria, dan dampak pembangunan terhadap kehidupan rakyat.

Acara tersebut diinisiasi oleh berbagai elemen mahasiswa dan organisasi kajian yang ingin membuka ruang diskusi kritis mengenai persoalan sosial yang terjadi di Indonesia. Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk melihat lebih dekat realitas yang dialami masyarakat adat di berbagai wilayah.

Film dokumenter Pesta Babi mengangkat persoalan perampasan tanah adat, eksploitasi sumber daya alam, serta masuknya proyek pembangunan yang dinilai mengancam ruang hidup masyarakat adat. Film tersebut juga memperlihatkan bagaimana masyarakat lokal berusaha mempertahankan tanah, budaya, dan identitas mereka di tengah tekanan modernisasi.

Baca : PB HMI Desak Menteri BUMN Copot Dirut PLN Pasca Blackout Massal di Sumatera dan Aceh

Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini menghadirkan dua pemantik diskusi, yakni Ketua Institut Demokrasi dan Analisis (IDEA), Endang Suhendar, serta Ketua Bidang Kajian Strategis LSMP Tangerang, Dede Faisal Akbar. Keduanya membahas persoalan kolonialisme modern yang dianggap masih terjadi dalam bentuk penguasaan tanah dan sumber daya alam.

Diskusi berlangsung dengan suasana terbuka dan interaktif. Para peserta turut menyampaikan pandangan mengenai konflik agraria, hak masyarakat adat, hingga peran negara dalam menjamin keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Selain menjadi ruang menonton bersama, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perlindungan hak masyarakat adat. Panitia menilai bahwa persoalan tanah adat bukan hanya menyangkut lahan, tetapi juga menyangkut identitas budaya, sejarah, dan keberlangsungan hidup masyarakat.

Baca juga : ‎Sambut Muswil 3 Banten, PC SAPMA PP Kabupaten Tangerang Rekomendasikan Gemilang Adhityatama

Panitia pelaksana menyampaikan bahwa pembangunan seharusnya tidak mengorbankan masyarakat kecil. Mereka berharap negara dapat menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat serta memastikan proses pembangunan berjalan secara adil dan manusiawi.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk memahami bahwa konflik tanah adat merupakan persoalan yang kompleks dan memiliki dampak sosial yang besar. Hilangnya tanah adat dapat menyebabkan hilangnya mata pencaharian, budaya, hingga hubungan masyarakat dengan wilayah leluhur mereka.

Kegiatan nonton bareng dan diskusi film Pesta Babi diharapkan menjadi ruang refleksi bersama agar masyarakat semakin peduli terhadap isu kemanusiaan, keadilan sosial, dan perlindungan hak masyarakat adat di Indonesia. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap kebebasan berdiskusi dan penyampaian pendapat di ruang publik.