Rupiah Melemah, Dolar AS Tembus Rp17.505 pada Pertengahan Mei 2026

Berita65 Dilihat

Tintaindonesia.id, Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mengalami tekanan pada perdagangan pertengahan Mei 2026. Berdasarkan data kurs yang ditampilkan Google Finance pada Rabu (14/5/2026) pukul 04.33 UTC, nilai tukar 1 dolar AS tercatat setara Rp17.505,15.

Kondisi tersebut menunjukkan rupiah berada dalam tren pelemahan dibandingkan beberapa pekan sebelumnya. Dalam grafik pergerakan satu bulan terakhir, kurs dolar AS terhadap rupiah terlihat terus mengalami kenaikan secara bertahap.

Pada pertengahan April 2026, nilai tukar dolar AS masih berada di kisaran Rp17.129 per dolar AS. Namun memasuki Mei 2026, grafik menunjukkan penguatan dolar semakin signifikan hingga menembus level Rp17.500.

Baca : Mahasiswa Soroti Kinerja Polres Aceh Singkil terkait Kasus Pembunuhan di Tanah Bara

Penguatan dolar AS ini dipengaruhi berbagai faktor global, mulai dari kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), ketidakpastian ekonomi dunia, hingga meningkatnya permintaan terhadap mata uang dolar sebagai aset aman.

Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh kondisi domestik, termasuk arus modal asing, neraca perdagangan, serta sentimen pasar terhadap stabilitas ekonomi nasional. Pelemahan rupiah berpotensi berdampak pada kenaikan biaya impor dan tekanan inflasi.

Pengamat ekonomi menilai, jika tren pelemahan rupiah terus berlangsung, maka pemerintah dan Bank Indonesia perlu mengambil langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan kepercayaan pasar.

Baca juga : Wasekjen PB HMI Desak Gubernur Aceh Cabut Pergub Nomor 2 Tahun 2026 tentang Pembatasan JKA

Bank Indonesia sebelumnya menegaskan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga kestabilan rupiah agar tetap sesuai fundamental ekonomi nasional. Selain itu, penguatan cadangan devisa juga dinilai penting untuk meredam gejolak pasar.

Melemahnya rupiah terhadap dolar AS turut menjadi perhatian masyarakat dan pelaku usaha, terutama sektor yang bergantung pada bahan baku impor. Kenaikan kurs dolar dapat berdampak langsung pada harga barang dan biaya produksi di dalam negeri.

Meski demikian, sejumlah kalangan berharap kondisi nilai tukar rupiah dapat kembali stabil seiring membaiknya kondisi ekonomi global dan meningkatnya optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026.