Debit Air Meluap, Puluhan Hektare Sawah di Tangerang Gagal Panen

Berita451 Dilihat

Tintaindonesia.id, Kabupaten Tangerang – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, menimbulkan dampak serius bagi sektor pertanian maupun permukiman warga. Curah hujan tinggi yang terjadi beberapa hari terakhir menyebabkan debit air meningkat dan menggenangi kawasan rendah, Rabu (14/1/2025).

Kecamatan Kresek menjadi salah satu wilayah yang terdampak paling parah, khususnya Desa Pasir Ampo. Di daerah ini, sekitar 35 hektare sawah terendam banjir dan dipastikan gagal panen. Genangan air yang berlangsung lama membuat tanaman padi rusak dan tidak lagi bisa dipanen sesuai jadwal.

Perwakilan perangkat desa menyampaikan bahwa genangan air di area persawahan sudah terjadi selama beberapa hari tanpa ada tanda-tanda surut. Kondisi tersebut menyebabkan para petani mengalami kerugian besar karena hasil tanam yang seharusnya segera dipanen justru musnah akibat terendam banjir.

Baca : Demo Ojol Kepung Monas, 1.541 Polisi Disiagakan Jaga Ibukota

Selain merusak sawah, banjir juga merendam ratusan rumah warga dengan ketinggian air mencapai 60 sentimeter hingga satu meter di beberapa titik. Akibatnya, aktivitas warga terganggu, sebagian perabot rusak, dan sebagian masyarakat terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman.

Warga menyebutkan bahwa banjir kerap terjadi saat musim hujan, terutama karena kondisi tanggul sungai di sekitar wilayah tersebut sudah lama mengalami kerusakan dan belum mendapatkan perbaikan menyeluruh. Situasi ini membuat daerah sekitar rawan tergenang setiap debit air sungai meningkat.

Baca juga : Pelantikan Komisariat Universitas Tangerang Raya: Dorong Transformasi Kepemimpinan Menuju Gerakan Intelektual yang Kritis dan Bertanggung Jawab

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang mencatat, banjir kali ini tidak hanya berdampak pada Desa Pasir Ampo, tetapi juga menjangkau sejumlah kawasan lain di kecamatan sekitar. Ratusan kepala keluarga terdampak dan membutuhkan penanganan cepat, baik logistik maupun kesehatan.

Warga berharap adanya langkah konkret dari pemerintah daerah untuk melakukan normalisasi sungai, memperbaiki tanggul, serta memperkuat sistem drainase. Mereka khawatir banjir akan kembali terulang jika penanganan hanya dilakukan sementara tanpa perbaikan infrastruktur secara permanen.

Dengan melihat dampak luas terhadap pertanian dan pemukiman, pemerintah daerah diharapkan melakukan koordinasi lintas sektor guna mempercepat proses perbaikan dan memberikan bantuan kepada warga terdampak. Upaya mitigasi jangka panjang diperlukan agar bencana serupa tidak kembali menghantui masyarakat setiap musim hujan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *