Ketua IDEA Kecam Tindakan Brimob Lindas Ojek Online

Berita160 Dilihat

Tintaindonesia.id, Jakarta — Ketua Institut Demokrasi dan Analisis (IDEA), Endang Suhendar, mengecam keras tindakan aparat Brimob yang melindas seorang pengemudi ojek online dalam insiden pada 28 Agustus 2025. Menurutnya, peristiwa tersebut bukan hanya mencederai rasa kemanusiaan, tetapi juga merusak citra kepolisian di mata masyarakat.

Endang menegaskan bahwa aparat penegak hukum semestinya hadir untuk melindungi rakyat, bukan justru menjadi sumber ketakutan. “Kejadian ini adalah bentuk kegagalan aparat dalam menjunjung nilai-nilai profesionalisme. Polisi adalah pengayom, bukan ancaman bagi masyarakat sipil,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (29/8).

Menurut Endang, tindakan represif yang melibatkan kekerasan fisik seperti ini bertolak belakang dengan semangat reformasi kepolisian yang telah lama digaungkan. Demokrasi, kata dia, hanya dapat tumbuh apabila aparat menghormati hak asasi manusia serta menjunjung tinggi etika pelayanan publik.

Baca : Ketua PW IPNU Banten Mengecam Keras Tindakan Representif Aparat, Mencederai Kemanusiaan, Polri Harus di Evaluasi!

“Dalam negara demokratis, kekuasaan senjata tidak boleh ditempatkan di atas suara kemanusiaan. Setiap warga negara berhak mendapatkan perlakuan yang adil dan manusiawi, termasuk dalam situasi pengamanan massa sekalipun,” tegas Endang.

Ketua IDEA itu juga menekankan perlunya evaluasi menyeluruh terhadap prosedur operasional standar yang digunakan Brimob di lapangan. Menurutnya, pelatihan berbasis pendekatan humanis harus diperkuat agar aparat tidak lagi mengedepankan kekerasan dalam menangani persoalan sosial.

Lebih lanjut, Endang mendesak Kapolri untuk segera mengambil langkah tegas terhadap anggota yang terlibat dalam insiden tersebut. “Tanpa adanya sanksi yang jelas dan transparan, masyarakat akan semakin kehilangan kepercayaan terhadap institusi Polri. Tindakan ini harus diproses secara hukum maupun etik,” ungkapnya.

Baca juga : Istana Beri Atensi Khusus Kasus Driver Ojol Tewas Saat Demo di DPR

IDEA, lanjut Endang, memandang kasus ini sebagai momentum penting untuk mereformasi pola komunikasi antara aparat dan masyarakat. Ia menilai pendekatan dialogis jauh lebih efektif dalam meredam potensi konflik dibandingkan penggunaan kekerasan yang justru memperkeruh keadaan.

“Insiden tragis ini seharusnya menjadi peringatan bagi kita semua bahwa demokrasi membutuhkan aparat yang humanis, transparan, dan akuntabel. Polisi bukan musuh rakyat, melainkan mitra dalam menjaga ketertiban sosial dan memperjuangkan keadilan,” pungkas Endang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *