Hilangnya Pergerakan HMI Cabang Tangerang : Dualisme Kepemimpinan Jadi Biang Keladi

Opini526 Dilihat

Oleh : Muhammad Alfi Arif Rahman (Ketua Umum HMI Komisariat Fisip Unis Cabang Tangerang)

Tintaindonesia.id, Opini — Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tangerang kini menghadapi kenyataan pahit yang tak bisa lagi disangkal, pergerakan organisasi nyaris berhenti total, tak ada lagi gaung kajian strategis, tak terlihat aksi solidaritas untuk rakyat, tak terdengar suara kritis atas ketidakadilan, yang tersisa hanya senyap—senyap yang menyesakkan.

Dan semua ini berpangkal pada satu masalah mendasar: dualisme kepemimpinan yang tak kunjung usai

Sejak November 2024, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tangerang menghadapi krisis kepemimpinan yang belum terselesaikan hingga saat ini. Dilema kepemimpinan yang berlarut ini menimbulkan kekhawatiran serius terhadap stabilitas organisasi, yang terjadi justru tarik-menarik pengaruh, saling menegasikan, hingga memperkeruh ruang-ruang komunikasi organisasi, dalam situasi seperti ini, pergerakan pun menjadi korban.

Kader-kader baru bingung, kegiatan perkaderan berjalan seadanya. Isu-isu kemasyarakatan yang dulu jadi bahan diskusi kini tenggelam oleh konflik internal.

HMI, yang dulu menjadi pelopor gerakan moral dan intelektual di Tangerang, kini justru sibuk mengurus konflik kursi. Sebuah ironi menyedihkan bagi organisasi sebesar HMI.

Lebih jauh, dalam roses pengesahan Ketua Umum baru pun dilaporkan masih tersendat di tingkat Pengurus Besar (PB) HMI. Lambatnya pengurusan berkas ke PB HMI menambah panjang daftar persoalan yang belum terurai.

Dualisme kepemimpinan ini bukan hanya persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah, ini adalah gagalnya etika dalam berorganisasi, hilangnya semangat musyawarah, dan matinya rasa tanggung jawab terhadap nilai-nilai HMI.

Kami menyerukan kepada seluruh pihak yang mengaku cinta HMI, terutama para pemegang klaim kekuasaan, untuk menyadari bahwa organisasi ini lebih besar dari ambisi siapa pun.

Sudahi dualisme, hentikan manuver, dan kembalilah ke jalan perjuangan. Karena jika pergerakan dan perkaderan mati, maka HMI bukan lagi himpunan perjuangan, Ia hanya akan menjadi nama kosong dalam sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *